Translate

Minggu, 03 November 2013

puisi 2011



Hilang                                                
Gemuruh ombak menerjang karang..
Terbentang luas di lautan cinta..
Aku menunggu kau sang putri penguasa lautan…
Menari-nari di bayangan mimpi dewa neptunus..
Disinari kilauan fatamorgana..
Menggetarkan roh-roh laut..
Alga merah merenggut nyawa..
Untuk aku bersatu denganmu..
Selamanya..


Rapuh
Pahit itu masih terasa,
Himpitan kalbu dibalik jeruji,
Termakan usia karat tak bertepi.
Menunggu dirimu ditepi perapian,
Berbisik lirih menuntun jemariku.
Dalam rumah mungilku dikaki lembah,
Aku memanggilmu…
Namun yang kudengar hanya gaung tawa mereka dari lorong gelap tak bertepi.
Aku tak akan berhenti memanggilmu,
Meski sang rumput liat tlah menyumbat telinagmu.
Kau tak menghiraukanku,
Tapi setidaknya dinding rumah mungilku akan menyampaikan isakku,
Dan ubin yang kupahat sendiri itu aan menjadi saksi air mataku…
Dari cerobong asap yang telah kusam itu aku terbang menuju kekekalan hidup ini…


Aku Menulis Sambil Menangis
Aku menulis sambil menangis
Jemariku berjalan pincang menyusun kata.
Aku menulis sambil menangis
Tinta darah bercampur air mata tersusun menakutkan diselembar kertas hitam.
Aku menulis sambil menangis
Goresan sesal tak patuh pada peringatan masa lalu menguliti tubuhku.
Aku menulis sambil menangis
Kutunggu beban meringan disapu hembusan fajar menusuk tulang sum-sum.
Aku menulis sambil menangis
Mengharap ridho masa yang akan datang menerima sesal dari nyawa penuh dosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar