Hilang
Gemuruh ombak menerjang karang..
Terbentang luas di lautan cinta..
Aku menunggu kau sang putri penguasa lautan…
Menari-nari di bayangan mimpi dewa
neptunus..
Disinari kilauan fatamorgana..
Menggetarkan roh-roh laut..
Alga merah merenggut nyawa..
Untuk aku bersatu denganmu..
Selamanya..
Rapuh
Pahit itu masih terasa,
Himpitan kalbu dibalik jeruji,
Termakan usia karat tak bertepi.
Menunggu dirimu ditepi perapian,
Berbisik lirih menuntun jemariku.
Dalam rumah mungilku dikaki lembah,
Aku memanggilmu…
Namun yang kudengar hanya gaung tawa mereka
dari lorong gelap tak bertepi.
Aku tak akan berhenti memanggilmu,
Meski sang rumput liat tlah menyumbat
telinagmu.
Kau tak menghiraukanku,
Tapi setidaknya dinding rumah mungilku akan
menyampaikan isakku,
Dan ubin yang kupahat sendiri itu aan
menjadi saksi air mataku…
Dari cerobong asap yang telah kusam itu aku
terbang menuju kekekalan hidup ini…
Aku Menulis Sambil Menangis
Aku menulis sambil
menangis
Jemariku berjalan
pincang menyusun kata.
Aku menulis sambil
menangis
Tinta darah bercampur
air mata tersusun menakutkan diselembar kertas hitam.
Aku menulis sambil
menangis
Goresan sesal tak patuh
pada peringatan masa lalu menguliti tubuhku.
Aku menulis sambil
menangis
Kutunggu beban meringan
disapu hembusan fajar menusuk tulang sum-sum.
Aku menulis sambil
menangis
Mengharap ridho masa
yang akan datang menerima sesal dari nyawa penuh dosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar