Lakon
UNIVERSITAS ORANG-ORANG MATI
Karya Irwan Jamal
EPISODE 1
KOOR (Bernyanyi)
Pada mulanya universitas begitu indah di matanya. Pelangi
di langit universitas berwarna cerah menampakkan diri saat hujan di siang hari.
Dengan berpayung biru dia pergi ke universitas. Langkahnya tergesa tapi pasti.
Sepatunya di semir. Pakaiannya bersih, rambutnya tersisir rapi. Dia mempunyai
seorang tunangan, seorang dosen wanita, muda dan selalu gembira. Jika pelangi
itu indah baginya maka senyum tunangannya ini lebih indah dari pelangi itu. Dia
datang ke kelas dengan menggenggam buku-buku. Nyanyian gembira para mahasiswa
di universitas bergema.
Selamat siang Profesor kami, mata yang terang, kuping
yang jernih, dengan ini kami belajar dan mimpi akan kami genggam.
Usai mengajar dia pulang dan menghabiskan malam dengan
melihat bintang bersama tunangannya. Tapi kini dia berdiri tidak di bawah
pelangi. Dia tidak berdiri bersama tunangannya. Dia berdiri di bawah langit
mendung dan asap mesiu yang menyengat hidung. Dia berdiri bersama ibunya.
Tunangannya telah mati, juga bapaknya, juga adiknya. Di antara puing reruntuhan
dia berdiri. Kini langit baginya adalah lukisan hitam. Tidak ada warna lagi.
Dia berdiri di samping ibunya yang duduk menangis mengenggam air mata. Langkah
kakinya menjadi ragu. Sepatunya kotor. Pakaiannya menjadi kumal, rambutnya
tidak terurus. Nyanyian gembira tidak lagi ada.
Yang ada adalah nyanyian duka. Tangannya tidak lagi menggenggam buku.
Kini dia berdiri mengenggam api. Dia hendak melangkah.
IBU TUA
Anakku, Kamu telah mengganti buku di tanganmu dengan api.
Anakku, perang telah berakhir. Puncak pertikaian yang paling menghancurkan
sejarah peradaban manusia telah usai.
PROFESOR
Hari-hari gelap telah terlewati oleh 70 juta manusia yang
berperang, angka korban yang hilang, terkena wabah, pengusiran paksa atau tewas mencapai 40 juta. Kini
yang tertinggal hanya puing-puing dan mayat-mayat. Ibu, aku akan ke
universitas! Bangunan universitas yang telah hancur itu akan kudatangi, di
antara puing reruntuhan dan tubuh-tubuh mati, aku akan berjalan dengan membawa
api di tangan, menuju puing bangunan.
IBU TUA
Datangilah!
Keringkanlah wajah ibu yang penuh airmata ini dengan api. Hangatkanlah tanganku
yang dingin karena memeluk mayat bapak, adik dan tunanganmu. Dan wajahmu, o cahaya
api yang kamu nyalakan ini menerpa wajahmu yang penuh luka. Memperjelas kerutan dukamu! Dan mata kirimu yang luka
selalu meneteskan airmata! Kaki kananmu juga cacat!
PROFESOR
Ibu, jangan menangis. Akan aku datangi universitas! Akan
aku lemparkan api di tanganku ini! Aku akan membakar universitas!
IBU TUA
Anakku! Anakku berlarilah! Berlarilah ke universitas dan lemparkan
api di tanganmu itu! Maka api yang kecil itu perlahan akan membesar. Langit akan
menjadi merah! Api yang kuning! Api yang merah! Api yang hijau! Api yang biru!
Menjadi lidah-lidah yang panas membara! Menjilati universitas! Angin akan bergulung
panas bergelora! Universitas akan terbakar! Padang tandus itu akan berasap.
Kuburan-kuburan di sekitarnya akan menganga merasakan hawa panasnya.
KOOR (Bernyanyi)
Dan dia berlari. Berlari dan melemparkan api itu.
Universitas terbakar! Segala yang sunyi menjadi lebih sunyi. Tanah yang mati, kamu
adalah padang tandus yang sunyi. Gagak yang hitam, kamu adalah malam yang
membelam. Pohon kamboja, kamu adalah angin dan suara. Peti mati kelabu, kamu
adalah musium gelap tanpa lampu. Langit yang beku, kamu adalah bongkahan es
dalam kepala salju. Asap yang bergerak lamban, kamu adalah kematian.
Dan setelah api padam, di atas puing-puing bangunan,
profesor berdiri menginjak buku raksasa. Di lantai berderet peti mati. Lonceng
terdengar. Hari menjadi malam.
PROFESOR
Di
dalam tanah di atas puing-puing ini manusia-manusia mati terkubur! Keluarga-keluarga
mati terkubur! Aku melihatnya dengan mataku yang satu ini. Mata yang selamat
ini akan menemani mataku yang lain yang terkena pecahan bom! Oh wajah yang
kasar, wajah luka bakarku! Waktu penyerangan itu terjadi aku sudah berjalan dan
berlari, 120 km perjalanan yang panjang dan melelahkan meninggalkan universitas.
Di dekat sungai ketika aku hendak minum aku mendengar
deru pesawat terbang! Air di tanganku tumpah, seketika aku melihat bom jatuh!
Pecahannya menghantam wajahku! Aku masih bisa membayangkan peristiwa itu dalam
lensa mataku. Kini perang telah usai. Perang yang panjang. Seluruh dunia
berperang. Dunia telah jatuh miskin. Dunia menjadi pengemis. Dunia frustrasi
dipenuhi tali gantungan, peti mati, dan kuburan. Siang menjadi malam ketika aku
berdiri disini, di atas bekas reruntuhan universitas. Dunia telah menjadi
kuburan! Orang-orang mati di atas ranjang puing-puing kehancuran! Orang-orang pintar,
para ahli yang seharusnya membuat manusia bahagia, malahan membuat program
pemusnahan massal! Memporak porandakan kehidupan manusia! Korban pemboman
bergelimpangan! Pengusiran paksa! Kelaparan dan wabah terjadi sesudah perang. Perang
sudah usai. Tapi aku masih tetap mendengar bunyi detak bom waktu dalam denyut
nadi universitas. Kini para ahli dan ilmuwan tidak bisa menanggulangi wabah
sesudah perang. Ekonom tidak mampu menyelesaikan masalah inflasi dan
kemiskinan. Sarjana-sarjana teknik kembali berlomba membuat senjata yang akan
memusnahkan diri mereka sendiri dan ras manusia pada umumnya! Sementara di
belahan bumi lain orang-orang kelaparan dan kekurangan air minum. Bau busuk
terus menyengat dari universitas. Universitas perlahan bangkit kembali memproduksi
kematian. Sebelum
manusia-manusia mati aku harus segera menciptakan episode kematian bagi
universitas! Aku masih mendengar detak bom waktu dalam denyut nadi
universitas! Bangkitlah! Bangkitlah para korban!
IBU TUA
Hai orang-orang yang berada di dalam kegelapan! Bangun!
Bangun dari dalam peti matimu! Bangun! Bukalah! Bukalah! Tutup peti matimu!
Saatnya bangkit anak-anakku! Terlalu lama kamu tertidur, hai anak-anakku!
Keluarlah! Bukalah tutup peti matimu! Keluarlah dari kegelapan itu!
PROFESOR
Bangunlah sekarang para korban! Lihatlah tali gantungan
itu! Lihatlah peti mati itu! Kita gantung setiap orang yang menaburkan benih
kehancuran! Kita masukkan ke dalam peti mati!
Kita kuburkan gagasan-gagasannya! Kini seseorang akan datang. Aku telah
mengundangnya. Seorang ilmuwan muda. Dia berbahaya. Banyak manusia berbahaya
berkeliaran di sekitar kita. Ambisinya adalah mati atau mematikan. Aku akan terus
mengundang mereka agar datang kemari! Sekarang kita sambut dia! Ibu, kita
bunyikan lonceng! Kita bangunkan para penyambut!
KOOR
Ibu memukul lonceng. Kuburan-kuburan menganga.
Mayat-mayat hidup keluar dari kubur! Mereka mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang
yang mati! Bercampur baur, berjejal mayat-mayat yang keluar dari liang kubur
bersama debu! Lama mereka tertidur. Mereka tertidur berselimut buku-buku. Buku-buku
yang lapuk! Mereka menyeret kakinya di universitas yang hancur, melewati
koridor-koridor, menaiki tangga, menuju balkon, mereka datang berdesakan di
antara bangku-bangku, membawa persembahan! Mereka menyeret seorang ilmuwan!
IBU TUA
Dia, ya dia! Calon seorang profesor penghancur! Dia akan
merangkak kemari meminta kehidupan kepadamu, tapi berilah dia kematian. Selamat
datang anak-anakku! Bernyanyilah!
KOOR
Berjejal-jejal mereka berdiri di antara bangku-bangku. Mayat-mayat
hidup itu bernyanyi.
MAYAT-MAYAT HIDUP, KOOR
(Bernyanyi)
Selamat
malam Profesor kami! Mata yang buta kuping yang tuli. Dengan ini kami belajar dan
mimpi telah kami buang.
KOOR
Berjejal-jejal
mayat-mayat hidup itu duduk. Seperti ternak
mereka mendengus.
IBU TUA
Hai ilmuwan kamu mendengar dengusan mereka? Dengan siapa
kamu duduk bersama? Kamu duduk dengan para korban. Kamu duduk di antara
orang-orang mati!
ILMUWAN MUDA
Profesor! Profesor! Profesor! Saya belum mati! Ini tidak
mungkin! Saya masih bisa melihat bintang dan bulan di malam ini dan telinga
saya masih bisa mendengar nyanyian-nyanyian!
PROFESOR
Ya! Tapi kamu tidak akan lagi melihat matahari! Matahari
bagimu hanya tinggal memori!
ILMUWAN MUDA
Tidak!
Tidak! tidak Profesor! Saya belum mati! Ibu saya sedang menunggu saya memegang
ijazah!
PROFESOR
Selembar
ijazah yang akan mengijinkan kamu untuk mencabut nyawa orang -orang! Duduklah
kembali! Kembali! kembali ke bangkumu!
ILMUWAN MUDA
Tidak!
Tidak! tidak Profesor!
PROFESOR
Kembali ke bangkumu!
KOOR
Dan dia terlempar kembali ke bangkunya. Tubuhnya kaku
menyatu dengan bangku. Wajahnya menjadi putih seperti kertas yang belum
ditulisi. Tiang gantungan kini melambai seperti tangan yang ingin menggapai
leher ilmuwan muda itu! Kini tali gantungan itu menjerat lehernya! Ah! Perlahan
dia dibimbing menaiki kursi. Dia berdiri dan menyeru nama ibunya. Kursi itu di
dorong! Tubuh
mayatnya menjuntai.
PROFESOR
Kenakan
padanya baju toga dan topi sarjana!
MAYAT-MAYAT HIDUP, KOOR
(Bernyanyi)
Godeamus
igitur, Juvenes dum sumus, Godeamus igitur, Juvenes dum sumus, Pos molestum
senetutem, Pos molestum juvantutem, Noshabebit humus, Noshabebit humus, Vivat
akademia, Vivat profesores, Vivat academia, Vivat profesores, Vivat membrum
qualibet, Vivat membrum qualalibet, Vivat senatores, Vivat senatores.
KOOR
Lalu
seluruh mayat hidup menampilkan universitas dalam wajah yang buruk! Seluruh
mayat itu menggantung diri! Penghuni
universitas menggantung diri! Universitas
telah membangkai! Universitas menampilkan kuburan! Penghuni universitas berbaris
antri mengubur ilmuwan muda itu dalam keheningan. Lalu mereka mengubur dirinya
sendiri!
IBU TUA
Semua terkubur. Begitu sunyi. Tinggal kita berdua kini.
Cahaya padam di mata ilmuwan muda itu. Cahaya padam di mata orang-orang. Cahaya
juga kini padam di mata anakku. Dan cahaya akan padam di atas panggung ini. Cahaya akan tergantikan
hitam. Panggung akan menjadi hitam. Hitam, sehitam-hitamnya.
KOOR
Maka cahayapun padam di mata sang ibu. Padam untuk
selama-lamanya. Ibu itu terjatuh mati. Tertidur selamanya. Dalam keremangan
panggung ruhnya melayang ke angkasa. Terbang. Ruhnya menjelma menjadi seekor
gagak hitam. Gagak hitam itu kini terbang menukik ke bawah menghampiri
profesor. Lalu panggung benar-benar hitam. Benar-benar padam... Di atas
panggung perlahan cahaya kembali. Tempat ini bukan lagi
puing-puing. Tempat ini kini menjadi sebuah simpang jalan. Di atas batu besar.
Seorang laki-laki menuangkan air kimia dan mencampurkannya. Reaksi yang terjadi
membuat air dalam tabung-tabung kimia itu kini mendidih.
PROFESOR
Air
yang sedang mendidih dalam tabung itu adalah dunia yang sedang bergolak. Dia
sedang memulai menciptakan pergolakan. Gagak! Terbanglah! Berikan surat ini! Hingga
dia datang kemari. Surat ini adalah undangan untuk dia! Undangan baginya untuk berbicara
disini tentang percobaan yang sedang di lakukannya.
KOOR
Gagak itu terbang. Melayang bersama surat. Yang
dicengkramnya. Di angkasa sana gagak telah melihat seorang laki-laki yang
merenung di atas batu besar dengan tabung-tabung kimia yang mendidih! Dia turun
menukik. Menjelma jadi tukang pos. Lalu dia mendekati laki-laki itu. Dan dia
kini telah berdiri di hadapannya. Laki-laki itu tertegun sebentar
TUKANG POS
Anakku, ada surat untukmu! Dari sebuah universitas.
KOOR
Ilmuwan muda itu menerimanya. Dia heran mengapa tukang
pos itu tahu kepadanya? Dia tatap tukang pos itu. Tukang pos pergi. Di
persimpangan jalan. Tukang pos itu menjelma gagak kembali. Berkaok dan terbang
kembali kepada Profesor pengirim surat. Ilmuwan muda itu kini sendirian. Laki-laki
muda itu membaca surat. Hujan turun bersama angin. Lelaki itu berlari ke
rumahnya. Di dalam rumah lampu-lampu padam. Dia menyalakan lilin. Lalu kembali
membaca surat
PROFESOR
Aku
akan mengucapkan tulisan apa yang sedang dibacakannya. “Aku akan senang jika bisa bertemu kamu. Aku telah membaca riwayat hidupmu,
dan percobaan-percobaan yang kamu publikasikan. Universitas pasti senang menyambut tamu
seperti kamu“.
LELAKI MUDA
Malam ini adalah malam yang menyenangkan! Aku akan
berjalan ke masa depan. Kehidupan berada di genggaman. Ketika aku membaca surat
dari anda, Bapak. Lampu tiba-tiba padam. Tapi keinginanku yang besar
membuat semuanya kembali benderang. Aku menyalakan lilin. Saat ini suasana
dingin. Di luar hujan turun dengan deras. Angin menyentuh tirai daun jendela. Aku
senang, Bapak. Mendapat surat yang mengabarkan bahwa aku diminta untuk
menyampaikan hasil-hasil percobaanku. Besok aku
akan tempuh perjalanan ke universitasmu! Ibu aku pergi! Jangan menangis. Aku
pasti cepat kembali.
KOOR
Ibu menangis di depan pintu rumah. Ilmuwan muda itu lalu
berjalan dengan tas punggungnya yang penuh buku. Matanya menatap ke depan,
kepada perjalanan panjang yang akan ditempuhnya. Berhari-hari dia berjalan
melewati puing dan reruntuhan perang. Jika malam, jika lelah dia mencari rumah
untuk tidur. Setiap keluarga dari rumah yang dia singgahi untuk tidur berwajah
sedih. Cahaya padam di mata para keluarga itu. Dalam tidurnya, ilmuwan muda itu
sering bermimpi tentang ibunya yang menyuruh dia pulang. Dalam mimpinya dia
sering melihat ibunya menangis. Walau begitu dia terus berjalan dan berjalan.
Dia tidak pernah melihat ke belakang. Perjalanannya hampir sampai di tujuan. Dia
telah melihat bangunan universitas dari kejauhan. Hari mulai menjadi malam. Langit
berwarna hitam. Di kiri kanan perjalanannya dia melihat tebing-tebing tinggi. Pohon-pohon
menjuntai, ranting-rantingnya seperti tangan. Dan daun-daun yang hitam itu
seperti rambut raksasa. Dan sekilas dia
melihat banyak sekali kepala di atas pohon itu. Suara bom dan letusan senjata
lalu teriakan dan tangisan terdengar sayup di kejauhan.
LELAKI MUDA
Ah suara-suara
apa itu? Teriakan dan tangisan yang sedih. Oh! Kukira ini hanya halusinasi
karena letih dan kegelapan. Wah! Ada banyak kelalawar terbang di antara tebing-tebing.
KOOR
Dia
terus berjalan. Kini dia sampai di sebuah padang tandus. Tampak puing dan
reruntuhan rumah. Sebuah mortir menancap di satu bagian tanah tandus ini. Di kejauhan,
samar terlihat bangunan tua.
LELAKI MUDA
Itu
dia! Itu universitasnya! Aku telah tiba! Aku telah tiba!
KOOR
Lelaki
muda itu berlari menuju ke bangunan tua! Sebuah pohon besar tanpa daun tumbuh
disana. Seekor gagak hitam bertengger di batang-batangnya. Matanya menatap tajam
seorang manusia yang datang. Padang tandus! Padang tandus! Inilah padang tandus
itu! Sebatang pohon besar dan seekor gagak hitam adalah teman. Padang tandus!
Padang tandus! Inilah padang tandus itu! Tanah yang mati. Puing dan reruntuhan
perang. Tengoklah pohon besar itu! Lihatlah
gagak hitam itu! Gagak itu hitam seperti malam. Pohon tinggi yang cabangnya
melingkar itu bukan pohon!
LELAKI MUDA
Aku
telah tiba! Ini universitasnya! Telah aku tempuh perjalanan panjang.
Mendaki bukit berliku dari bawah sana. Melewati tepi-tepi jurang. Dan kini aku
sampai disini. Universitas di sebuah padang tandus!
GAGAK
Kaaak... kaaak... kaaak...
PROFESOR
Gagak itu bersuara! Itu adalah kabar berita, dia telah
datang kemari!
GAGAK
Kaaakkk.. Kaaaakkk.. Kaaaakkk..
LELAKI MUDA
Hai! Kamu telah membuat aku kaget! Suaramu mengerikan!
Puisi paling hitam yang pernah kudengar! Seekor gagak. Hitam seperti malam. Matanya
lebam menatap awan. Di balik reranting pohon yang meranggas. Wajahnya mengeras.
Cahaya bulan liar bersinar buas. Seakan memancarkan anak panah-anak panah yang
panas. Berjatuhan seperti ingin menikam dunia.
GAGAK
Kaaakkk.. Kaaaakkk.. Kaaaakkk..
KOOR
Gagak itu bersuara! Gagak itu bersuara! Ia menatap lelaki
muda itu! Lelaki muda itu menatap gagak. Lelaki muda dan
gagak saling bertatap.
LELAKI MUDA
Hai gagak!
GAGAK
Kaaakkk..
Kaaaakkk.. Kaaaakkk..
LELAKI MUDA
Matamu
adalah mata hitam yang tajam! Lebih tajam dari
pisau belati! Ranting pohon yang kamu cengkram itu adalah pohon yang aneh. Pohon
yang tumbuh di tempat yang paling tandus. Dimana batupun enggan tumbuh disini!
PROFESOR
Dia sudah datang! Bukalah gerbang!
KOOR
Gerbang terbuka. Disana ada buku raksasa. Profesor duduk
di atasnya.
GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...
PROFESOR (Bernyanyi)
Aku adalah profesor. Hancur bajuku terbakar perang. Hitam
otakku hitam nian. Dan esok dunia kan ku genggam! Selamat datang anak muda! Silakan
masuk!
GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...
KOOR
Suara gagak itu kini menjadi parau. Bunyi lonceng
bergaung. Berdentang-dentang.
GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...
KOOR
Kini telah tiba saatnya. Telah datang tali gantungan itu!
Telah datang peti mati itu! Pulanglah kamu nak! Pulang ke ibumu! Hai Profesor
biarlah dia pulang. Profesor! Profesor! Ah! Ternyata profesor telah tidak
mendengar. Ia tuli. Ada ular di dalam lubang telinganya. Menjalar di dalam
otaknya. Hai anak muda jangan terkejut, profesor akan naik ke kursi dan
menjeratkan lehernya sendiri!
LELAKI MUDA
Profesor!!! Apa yang Bapak lakukan?
PROFESOR
Kenapa anakku? Kamu terkejut! Sudah aku katakan kamu
jangan terkejut. Bapak sedang menjerat leher bapak. Bapak sedang bersedih. Tapi
Bapak senang kamu datang dari tempat yang jauh, dengarkan anakku, universitas telah mati. Bertumpuk buku sudah
tidak berguna. Berjuta batang pensil sudah tidak berarti. Dunia ramai dengan
chaos! setelah bertahun-tahun aku mengabdi di dunia universitas, episode ini adalah episode kematian bagi
universitas! Kamu pasti haus. Ini air untukmu. Minumlah.
KOOR
Kamu tenggak minuman itu dalam kehausan yang amat sangat.
Maka sekaratlah kamu! Mengigau mulutmu! Menggigau! Mendekatlah pada
Profesor.
PROFESOR
Mendekatlah nak. Ini air untukmu. Air kencing kata-kata! Buku-buku
menangis. Tumpahlah airmata pengetahuan. Tumpahlah darah. Manusia-manusia
meneteskan airmata.
LELAKI MUDA
Airmata
matematika, airmata kimia, airmata fisika, airmata biologi, airmata ekonomi,
airmata sejarah, airmata sosiologi, airmata religi, airmata estetika, airmata
filsafat!
KOOR
Bel berbunyi. Kelas akan dimulai. Orang-orang, profesor-profesor
dan dosen-dosen berada di tiang gantungan. Mayat orang-orang dan mahasiswa
keluar dari kubur. Bertubuh debu. Tangannya berbuku lapuk. Mereka kini berbaris.
Di dalam mata mereka ada cahaya dendam, penderitaan dan kesedihan. Ilmuwan muda
tersadarkan.
LELAKI MUDA
Apa aku bermimpi? Mimpi yang sangat hitam. Lebih buruk
dari mimpi masa kecilku ketika berlayar di kejar binatang laut raksasa. Siapa
orang-orang yang mengerikan ini? Mengapa mereka menjerat leher mereka sendiri
dengan tali tambang yang kasar itu?
PROFESOR
Mereka adalah orang-orang mati!
ILMUWAN MUDA
Siapa mereka? Mengapa mereka mati? Mengapa mereka bunuh
diri?
PROFESOR
Universitas telah membujuk dan merayu agar mereka mati!
Agar mereka bunuh diri! Penghuni universitas adalah para penari yang mengajak
orang-orang menarikan kematian. Universitas
menarikan tarian kematian untuk dunia!
KOOR
Lagu dan musik bagi tarian kini terdengar. Musik yang
indah! Tunangan Profesor kini bangkit dari peti matinya. Berbaju pengantin
berwarna putih.
TUNANGAN dan KOOR (Bernyanyi)
Jangan bertanya siapa yang mati! Jangan bertanya siapa
yang bunuh diri! Jangan bertanya mengapa mereka mati! Jangan bertanya mengapa
mereka bunuh diri! Jangan bertanya siapa yang mematikannya! Siapa yang
membuatnya bunuh diri!
PROFESOR
Pengantinku! Pengantinku! Oh kamu yang lebih indah dari
pelangi, kamu datang lagi, kembali kini aku
melihatmu! Dimana kamu selama ini bersembunyi?
TUNANGAN (Bernyanyi)
Kegelapan! Kegelapan! Kegelapan yang telah menyembunyikan
diriku! Profesor, menarilah bersamaku. Mari kita menari. Inilah hari pernikahan
kita, kita adalah sepasang mempelai, kau telah memberikan jiwa padaku sebagai
mas kawinnya.
PROFESOR
Saudara-saudaraku yang telah berada di tiang gantungan!
Saudara-saudaraku yang telah berada di peti mati! Terimakasih atas kehadiran
kalian dalam pernikahan kami ini! Lihatlah universitas-universitas itu di
jejali mayat-mayat mahasiswa yang mati karena pikiran dan percobaan-percobaan
mereka! Kini mereka keluar dari liang
kubur bersama debu! Menenteng buku-buku lapuk! Mereka menyeret kakinya di
ruang-ruang kelas di universitas yang membangkai! Para penghuninya berjejalan
mengubur diri mereka dengan ilmu pengetahuan yang mengarah pada kehancuran!
Mereka berjalan-jalan keluar masuk ruang kuliah. Duduk dalam deretan bangku
kuliah. Menatap profesor dan dosennya yang berbicara bagaimana caranya menggantung
diri! Kepala
mereka adalah lemari! Kepala mereka adalah data-data tentang pemusnahan manusia
yang efektif! Kepala mereka adalah rak buku yang ketika bel tanda pulang
berbunyi mereka mencopot rak itu, mereka mencopot kepalanya dengan gembira! Mereka berjalan pulang diantara orang-orang, di pasar, di
kota, di desa, mereka berjalan sambil menenteng kepalanya. Orang-orang yang
miskin, kelaparan, kebingungan melihat rombongan penghuni universitas tanpa
kepala! Lalu sesampainya di rumah mereka meletakkannya di meja makan, dalam
kulkas, di tong sampah, terlempar ke dalam comberan, terhanyut di pipa
pembuangan, lalu keesokan harinya di universitas mereka mengenakan kepalanya
kembali! Tapi kepala mereka saling tertukar! Aku bertanya! Dimanakah kepala
mereka yang kemarin? Dimanakah kepala kamu yang kemarin? Kepala siapakah yang
sedang kamu kenakan sekarang!
KOOR MAYAT-MAYAT
(Bernyanyi)
Kepala-kepala
saling tertukar. Tangan dan kaki saling tertukar. Pikiran dan perasaan saling
tertukar. Kepastian dan percobaan saling tertukar. Kebenaran dan kejahatan
saling tertukar. Derita dan kebahagiaan saling tertukar. Air dan api saling
tertukar. Kawan dan lawan saling tertukar. Manusia dan binatang saling
tertukar. Perang dan damai saling tertukar. Hidup dan mati saling tertukar.
GAGAK
Kaaak...
kaaak... kaaak...
KOOR
Gagak
itu bersuara! Ada yang datang! Profesor! Apakah kamu mengundang orang
dalam pernikahanmu ini?
O ternyata bukan. Kami melihat dua orang anak kecil
datang kemari! Mereka berjalan berpegangan tangan sambil menangis. Sedih
sekali. Mereka tampak tidak terurus. Baju dan wajah mereka kotor. Mereka tampak
lapar.
Tampaknya mereka datang kesini untuk meminta makanan.
2 ANAK KECIL
Bapak,
bapak, kami minta makanan. Bapak, orangtua kami meninggal.
KOOR MAYAT HIDUP
Biarkan
mereka mati Profesor! Atau kita bunuh mereka! Mereka mungkin adalah calon-calon
penghuni universitas yang akan menghancurkan manusia-manusia!
PROFESOR
Jangan, mereka adalah korban perang. Mereka
yatim piatu! Pengantinku, kita asuh anak-anak ini.
GAGAK
Kaaak...
kaaak... kaaak...
KOOR
Universitas
berpesta pora. Nyanyian terus bergema. Anak-anak kecil itu kini bernyanyi.
2 ANAK KECIL, PARA PENYANYI
Selamat malam pak guru kami. Mata yang
terang. Kuping yang jernih. Dengan ini kami
belajar dan mimpi akan kami genggam.
KOOR
Dua anak kecil dalam peliharaan Profesor dan tunangannya.
Dan seekor gagak selalu bermain dengan mereka. Dua anak kecil itu tertarik
dengan suara sang gagak yang keras dan parau. Lalu dua anak kecil itu menirukan
dirinya sebagai gagak.
ANAK 1
Kaaaak....kaaaak...kaaaak...
ANAK 2
Kaaaak... kaaaak... kaaaak...
KOOR
Para
mayat tertawa. Para mayat gembira. Suasana yang aneh tercipta. Profesor
berjalan perlahan mendekati dua anak adopsinya itu. Matanya yang tinggal satu
menatap tajam.
PROFESOR
Anak-anakku, ada yang aku lupa, aku belum tahu siapa nama
kamu dan kamu?
ANAK 1
Namaku
Alfred Nobel.
ANAK 2
Namaku Albert Einstein.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar