Translate

Rabu, 17 Juni 2015

naskah drama




















Lakon
UNIVERSITAS ORANG-ORANG MATI
Karya Irwan Jamal























EPISODE 1

KOOR (Bernyanyi)
Pada mulanya universitas begitu indah di matanya. Pelangi di langit universitas berwarna cerah menampakkan diri saat hujan di siang hari. Dengan berpayung biru dia pergi ke universitas. Langkahnya tergesa tapi pasti. Sepatunya di semir. Pakaiannya bersih, rambutnya tersisir rapi. Dia mempunyai seorang tunangan, seorang dosen wanita, muda dan selalu gembira. Jika pelangi itu indah baginya maka senyum tunangannya ini lebih indah dari pelangi itu. Dia datang ke kelas dengan menggenggam buku-buku. Nyanyian gembira para mahasiswa di universitas bergema.

Selamat siang Profesor kami, mata yang terang, kuping yang jernih, dengan ini kami belajar dan mimpi akan kami genggam.

Usai mengajar dia pulang dan menghabiskan malam dengan melihat bintang bersama tunangannya. Tapi kini dia berdiri tidak di bawah pelangi. Dia tidak berdiri bersama tunangannya. Dia berdiri di bawah langit mendung dan asap mesiu yang menyengat hidung. Dia berdiri bersama ibunya. Tunangannya telah mati, juga bapaknya, juga adiknya. Di antara puing reruntuhan dia berdiri. Kini langit baginya adalah lukisan hitam. Tidak ada warna lagi. Dia berdiri di samping ibunya yang duduk menangis mengenggam air mata. Langkah kakinya menjadi ragu. Sepatunya kotor. Pakaiannya menjadi kumal, rambutnya tidak terurus. Nyanyian gembira tidak lagi ada.  Yang ada adalah nyanyian duka. Tangannya tidak lagi menggenggam buku. Kini dia berdiri mengenggam api. Dia hendak melangkah.

IBU TUA
Anakku, Kamu telah mengganti buku di tanganmu dengan api. Anakku, perang telah berakhir. Puncak pertikaian yang paling menghancurkan sejarah peradaban manusia telah usai.

PROFESOR
Hari-hari gelap telah terlewati oleh 70 juta manusia yang berperang, angka korban yang hilang, terkena wabah, pengusiran paksa atau  tewas mencapai 40 juta. Kini yang tertinggal hanya puing-puing dan mayat-mayat. Ibu, aku akan ke universitas! Bangunan universitas yang telah hancur itu akan kudatangi, di antara puing reruntuhan dan tubuh-tubuh mati, aku akan berjalan dengan membawa api di tangan, menuju puing bangunan.

IBU TUA
Datangilah! Keringkanlah wajah ibu yang penuh airmata ini dengan api. Hangatkanlah tanganku yang dingin karena memeluk mayat bapak, adik dan tunanganmu. Dan wajahmu, o cahaya api yang kamu nyalakan ini menerpa wajahmu yang penuh luka. Memperjelas kerutan dukamu! Dan mata kirimu yang luka selalu meneteskan airmata! Kaki kananmu juga cacat!

PROFESOR
Ibu, jangan menangis. Akan aku datangi universitas! Akan aku lemparkan api di tanganku ini! Aku akan membakar universitas!

IBU TUA
Anakku! Anakku berlarilah! Berlarilah ke universitas dan lemparkan api di tanganmu itu! Maka api yang kecil itu perlahan akan membesar. Langit akan menjadi merah! Api yang kuning! Api yang merah! Api yang hijau! Api yang biru! Menjadi lidah-lidah yang panas membara! Menjilati universitas! Angin akan bergulung panas bergelora! Universitas akan terbakar! Padang tandus itu akan berasap. Kuburan-kuburan di sekitarnya akan menganga merasakan hawa panasnya.

KOOR (Bernyanyi)
Dan dia berlari. Berlari dan melemparkan api itu. Universitas terbakar! Segala yang sunyi menjadi lebih sunyi. Tanah yang mati, kamu adalah padang tandus yang sunyi. Gagak yang hitam, kamu adalah malam yang membelam. Pohon kamboja, kamu adalah angin dan suara. Peti mati kelabu, kamu adalah musium gelap tanpa lampu. Langit yang beku, kamu adalah bongkahan es dalam kepala salju. Asap yang bergerak lamban, kamu adalah kematian.
Dan setelah api padam, di atas puing-puing bangunan, profesor berdiri menginjak buku raksasa. Di lantai berderet peti mati. Lonceng terdengar. Hari menjadi malam.

PROFESOR
Di dalam tanah di atas puing-puing ini manusia-manusia mati terkubur! Keluarga-keluarga mati terkubur! Aku melihatnya dengan mataku yang satu ini. Mata yang selamat ini akan menemani mataku yang lain yang terkena pecahan bom! Oh wajah yang kasar, wajah luka bakarku! Waktu penyerangan itu terjadi aku sudah berjalan dan berlari, 120 km perjalanan yang panjang dan melelahkan meninggalkan universitas. Di dekat sungai ketika aku hendak minum aku mendengar deru pesawat terbang! Air di tanganku tumpah, seketika aku melihat bom jatuh! Pecahannya menghantam wajahku! Aku masih bisa membayangkan peristiwa itu dalam lensa mataku. Kini perang telah usai. Perang yang panjang. Seluruh dunia berperang. Dunia telah jatuh miskin. Dunia menjadi pengemis. Dunia frustrasi dipenuhi tali gantungan, peti mati, dan kuburan. Siang menjadi malam ketika aku berdiri disini, di atas bekas reruntuhan universitas. Dunia telah menjadi kuburan! Orang-orang mati di atas ranjang puing-puing kehancuran! Orang-orang pintar, para ahli yang seharusnya membuat manusia bahagia, malahan membuat program pemusnahan massal! Memporak porandakan kehidupan manusia! Korban pemboman bergelimpangan! Pengusiran paksa! Kelaparan dan wabah terjadi sesudah perang. Perang sudah usai. Tapi aku masih tetap mendengar bunyi detak bom waktu dalam denyut nadi universitas. Kini para ahli dan ilmuwan tidak bisa menanggulangi wabah sesudah perang. Ekonom tidak mampu menyelesaikan masalah inflasi dan kemiskinan. Sarjana-sarjana teknik kembali berlomba membuat senjata yang akan memusnahkan diri mereka sendiri dan ras manusia pada umumnya! Sementara di belahan bumi lain orang-orang kelaparan dan kekurangan air minum. Bau busuk terus menyengat dari universitas. Universitas perlahan bangkit kembali memproduksi kematian. Sebelum manusia-manusia mati aku harus segera menciptakan episode kematian bagi universitas! Aku masih mendengar detak bom waktu dalam denyut nadi universitas! Bangkitlah! Bangkitlah para korban!

IBU TUA
Hai orang-orang yang berada di dalam kegelapan! Bangun! Bangun dari dalam peti matimu! Bangun! Bukalah! Bukalah! Tutup peti matimu! Saatnya bangkit anak-anakku! Terlalu lama kamu tertidur, hai anak-anakku! Keluarlah! Bukalah tutup peti matimu! Keluarlah dari kegelapan itu!


PROFESOR
Bangunlah sekarang para korban! Lihatlah tali gantungan itu! Lihatlah peti mati itu! Kita gantung setiap orang yang menaburkan benih kehancuran! Kita masukkan ke dalam peti mati!  Kita kuburkan gagasan-gagasannya! Kini seseorang akan datang. Aku telah mengundangnya. Seorang ilmuwan muda. Dia berbahaya. Banyak manusia berbahaya berkeliaran di sekitar kita. Ambisinya adalah mati atau mematikan. Aku akan terus mengundang mereka agar datang kemari! Sekarang kita sambut dia! Ibu, kita bunyikan lonceng! Kita bangunkan para penyambut!

KOOR
Ibu memukul lonceng. Kuburan-kuburan menganga. Mayat-mayat hidup keluar dari kubur! Mereka mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang yang mati! Bercampur baur, berjejal mayat-mayat yang keluar dari liang kubur bersama debu! Lama mereka tertidur. Mereka tertidur berselimut buku-buku. Buku-buku yang lapuk! Mereka menyeret kakinya di universitas yang hancur, melewati koridor-koridor, menaiki tangga, menuju balkon, mereka datang berdesakan di antara bangku-bangku, membawa persembahan! Mereka menyeret seorang ilmuwan!

IBU TUA
Dia, ya dia! Calon seorang profesor penghancur! Dia akan merangkak kemari meminta kehidupan kepadamu, tapi berilah dia kematian. Selamat datang anak-anakku! Bernyanyilah!

KOOR
Berjejal-jejal mereka berdiri di antara bangku-bangku. Mayat-mayat hidup itu bernyanyi.

MAYAT-MAYAT HIDUP, KOOR (Bernyanyi)
Selamat malam Profesor kami! Mata yang buta kuping yang tuli. Dengan ini kami belajar dan mimpi telah kami buang.

KOOR
Berjejal-jejal mayat-mayat hidup itu duduk. Seperti ternak mereka mendengus.

IBU TUA
Hai ilmuwan kamu mendengar dengusan mereka? Dengan siapa kamu duduk bersama? Kamu duduk dengan para korban. Kamu duduk di antara orang-orang mati!  

ILMUWAN MUDA
Profesor! Profesor! Profesor! Saya belum mati! Ini tidak mungkin! Saya masih bisa melihat bintang dan bulan di malam ini dan telinga saya masih bisa mendengar nyanyian-nyanyian!

PROFESOR
Ya! Tapi kamu tidak akan lagi melihat matahari! Matahari bagimu hanya tinggal memori!

ILMUWAN MUDA
Tidak! Tidak! tidak Profesor! Saya belum mati! Ibu saya sedang menunggu saya memegang ijazah!

PROFESOR
Selembar ijazah yang akan mengijinkan kamu untuk mencabut nyawa orang -orang! Duduklah kembali! Kembali! kembali ke bangkumu!

ILMUWAN MUDA
Tidak! Tidak! tidak Profesor!

PROFESOR
Kembali ke bangkumu!

KOOR
Dan dia terlempar kembali ke bangkunya. Tubuhnya kaku menyatu dengan bangku. Wajahnya menjadi putih seperti kertas yang belum ditulisi. Tiang gantungan kini melambai seperti tangan yang ingin menggapai leher ilmuwan muda itu! Kini tali gantungan itu menjerat lehernya! Ah! Perlahan dia dibimbing menaiki kursi. Dia berdiri dan menyeru nama ibunya. Kursi itu di dorong! Tubuh mayatnya menjuntai.

PROFESOR
Kenakan padanya baju toga dan topi sarjana!

MAYAT-MAYAT HIDUP, KOOR (Bernyanyi)
Godeamus igitur, Juvenes dum sumus, Godeamus igitur, Juvenes dum sumus, Pos molestum senetutem, Pos molestum juvantutem, Noshabebit humus, Noshabebit humus, Vivat akademia, Vivat profesores, Vivat academia, Vivat profesores, Vivat membrum qualibet, Vivat membrum qualalibet, Vivat senatores, Vivat senatores.

KOOR
Lalu seluruh mayat hidup menampilkan universitas dalam wajah yang buruk! Seluruh mayat itu menggantung diri! Penghuni universitas menggantung diri! Universitas telah membangkai! Universitas menampilkan kuburan! Penghuni universitas berbaris antri mengubur ilmuwan muda itu dalam keheningan. Lalu mereka mengubur dirinya sendiri!

IBU TUA
Semua terkubur. Begitu sunyi. Tinggal kita berdua kini. Cahaya padam di mata ilmuwan muda itu. Cahaya padam di mata orang-orang. Cahaya juga kini padam di mata anakku. Dan cahaya akan  padam di atas panggung ini. Cahaya akan tergantikan hitam. Panggung akan menjadi hitam. Hitam, sehitam-hitamnya.

KOOR
Maka cahayapun padam di mata sang ibu. Padam untuk selama-lamanya. Ibu itu terjatuh mati. Tertidur selamanya. Dalam keremangan panggung ruhnya melayang ke angkasa. Terbang. Ruhnya menjelma menjadi seekor gagak hitam. Gagak hitam itu kini terbang menukik ke bawah menghampiri profesor. Lalu panggung benar-benar hitam. Benar-benar padam... Di atas panggung perlahan cahaya kembali. Tempat ini bukan lagi puing-puing. Tempat ini kini menjadi sebuah simpang jalan. Di atas batu besar. Seorang laki-laki menuangkan air kimia dan mencampurkannya. Reaksi yang terjadi membuat air dalam tabung-tabung kimia itu kini mendidih.

PROFESOR
Air yang sedang mendidih dalam tabung itu adalah dunia yang sedang bergolak. Dia sedang memulai menciptakan pergolakan. Gagak! Terbanglah! Berikan surat ini! Hingga dia datang kemari. Surat ini adalah undangan untuk dia! Undangan baginya untuk berbicara disini tentang percobaan yang sedang di lakukannya.

KOOR
Gagak itu terbang. Melayang bersama surat. Yang dicengkramnya. Di angkasa sana gagak telah melihat seorang laki-laki yang merenung di atas batu besar dengan tabung-tabung kimia yang mendidih! Dia turun menukik. Menjelma jadi tukang pos. Lalu dia mendekati laki-laki itu. Dan dia kini telah berdiri di hadapannya. Laki-laki itu tertegun sebentar


TUKANG POS
Anakku, ada surat untukmu! Dari sebuah universitas.

KOOR
Ilmuwan muda itu menerimanya. Dia heran mengapa tukang pos itu tahu kepadanya? Dia tatap tukang pos itu. Tukang pos pergi. Di persimpangan jalan. Tukang pos itu menjelma gagak kembali. Berkaok dan terbang kembali kepada Profesor pengirim surat. Ilmuwan muda itu kini sendirian. Laki-laki muda itu membaca surat. Hujan turun bersama angin. Lelaki itu berlari ke rumahnya. Di dalam rumah lampu-lampu padam. Dia menyalakan lilin. Lalu kembali membaca surat

PROFESOR
Aku akan mengucapkan tulisan apa yang sedang dibacakannya. “Aku akan senang jika bisa bertemu kamu. Aku telah membaca riwayat hidupmu, dan percobaan-percobaan yang kamu publikasikan.  Universitas pasti senang menyambut tamu seperti kamu“.

LELAKI MUDA
Malam ini adalah malam yang menyenangkan! Aku akan berjalan ke masa depan. Kehidupan berada di genggaman. Ketika aku membaca surat dari anda, Bapak. Lampu tiba-tiba padam. Tapi keinginanku yang besar membuat semuanya kembali benderang. Aku menyalakan lilin. Saat ini suasana dingin. Di luar hujan turun dengan deras. Angin menyentuh tirai daun jendela. Aku senang, Bapak. Mendapat surat yang mengabarkan bahwa aku diminta untuk menyampaikan hasil-hasil percobaanku. Besok aku akan tempuh perjalanan ke universitasmu! Ibu aku pergi! Jangan menangis. Aku pasti cepat kembali.

KOOR
Ibu menangis di depan pintu rumah. Ilmuwan muda itu lalu berjalan dengan tas punggungnya yang penuh buku. Matanya menatap ke depan, kepada perjalanan panjang yang akan ditempuhnya. Berhari-hari dia berjalan melewati puing dan reruntuhan perang. Jika malam, jika lelah dia mencari rumah untuk tidur. Setiap keluarga dari rumah yang dia singgahi untuk tidur berwajah sedih. Cahaya padam di mata para keluarga itu. Dalam tidurnya, ilmuwan muda itu sering bermimpi tentang ibunya yang menyuruh dia pulang. Dalam mimpinya dia sering melihat ibunya menangis. Walau begitu dia terus berjalan dan berjalan. Dia tidak pernah melihat ke belakang. Perjalanannya hampir sampai di tujuan. Dia telah melihat bangunan universitas dari kejauhan. Hari mulai menjadi malam. Langit berwarna hitam. Di kiri kanan perjalanannya dia melihat tebing-tebing tinggi. Pohon-pohon menjuntai, ranting-rantingnya seperti tangan. Dan daun-daun yang hitam itu seperti rambut raksasa. Dan sekilas dia melihat banyak sekali kepala di atas pohon itu. Suara bom dan letusan senjata lalu teriakan dan tangisan terdengar sayup di kejauhan.

LELAKI MUDA
Ah suara-suara apa itu? Teriakan dan tangisan yang sedih. Oh! Kukira ini hanya halusinasi karena letih dan kegelapan. Wah! Ada banyak kelalawar terbang di antara tebing-tebing.

KOOR
Dia terus berjalan. Kini dia sampai di sebuah padang tandus. Tampak puing dan reruntuhan rumah. Sebuah mortir menancap di satu bagian tanah tandus ini. Di kejauhan, samar terlihat bangunan tua.

LELAKI MUDA
Itu dia! Itu universitasnya! Aku telah tiba! Aku telah tiba!



KOOR
Lelaki muda itu berlari menuju ke bangunan tua! Sebuah pohon besar tanpa daun tumbuh disana. Seekor gagak hitam bertengger di batang-batangnya. Matanya menatap tajam seorang manusia yang datang. Padang tandus! Padang tandus! Inilah padang tandus itu! Sebatang pohon besar dan seekor gagak hitam adalah teman. Padang tandus! Padang tandus! Inilah padang tandus itu! Tanah yang mati. Puing dan reruntuhan perang.  Tengoklah pohon besar itu! Lihatlah gagak hitam itu! Gagak itu hitam seperti malam. Pohon tinggi yang cabangnya melingkar itu bukan pohon!

LELAKI MUDA
Aku telah tiba! Ini universitasnya! Telah aku tempuh perjalanan panjang. Mendaki bukit berliku dari bawah sana. Melewati tepi-tepi jurang. Dan kini aku sampai disini. Universitas di sebuah padang tandus!

GAGAK
Kaaak... kaaak... kaaak...

PROFESOR
Gagak itu bersuara! Itu adalah kabar berita, dia telah datang kemari!

GAGAK
Kaaakkk.. Kaaaakkk.. Kaaaakkk..

LELAKI MUDA
Hai! Kamu telah membuat aku kaget! Suaramu mengerikan! Puisi paling hitam yang pernah kudengar! Seekor gagak. Hitam seperti malam. Matanya lebam menatap awan. Di balik reranting pohon yang meranggas. Wajahnya mengeras. Cahaya bulan liar bersinar buas. Seakan memancarkan anak panah-anak panah yang panas. Berjatuhan seperti ingin menikam dunia.

GAGAK
Kaaakkk.. Kaaaakkk.. Kaaaakkk..

KOOR
Gagak itu bersuara! Gagak itu bersuara! Ia menatap lelaki muda itu! Lelaki muda itu menatap gagak. Lelaki muda dan gagak saling bertatap.

LELAKI MUDA
Hai gagak!

GAGAK
Kaaakkk.. Kaaaakkk.. Kaaaakkk..

LELAKI MUDA
Matamu adalah mata hitam yang tajam! Lebih tajam dari pisau belati! Ranting pohon yang kamu cengkram itu adalah pohon yang aneh. Pohon yang tumbuh di tempat yang paling tandus. Dimana batupun enggan tumbuh disini!

PROFESOR
Dia sudah datang! Bukalah gerbang!


KOOR
Gerbang terbuka. Disana ada buku raksasa. Profesor duduk di atasnya.

GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...

PROFESOR (Bernyanyi)
Aku adalah profesor. Hancur bajuku terbakar perang. Hitam otakku hitam nian. Dan esok dunia kan ku genggam! Selamat datang anak muda! Silakan masuk!

GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...

KOOR
Suara gagak itu kini menjadi parau. Bunyi lonceng bergaung. Berdentang-dentang.

GAGAK
Kaaak... Kaaaak... Kaaaak...

KOOR
Kini telah tiba saatnya. Telah datang tali gantungan itu! Telah datang peti mati itu! Pulanglah kamu nak! Pulang ke ibumu! Hai Profesor biarlah dia pulang. Profesor! Profesor! Ah! Ternyata profesor telah tidak mendengar. Ia tuli. Ada ular di dalam lubang telinganya. Menjalar di dalam otaknya. Hai anak muda jangan terkejut, profesor akan naik ke kursi dan menjeratkan lehernya sendiri!

LELAKI MUDA
Profesor!!! Apa yang Bapak lakukan?

PROFESOR
Kenapa anakku? Kamu terkejut! Sudah aku katakan kamu jangan terkejut. Bapak sedang menjerat leher bapak. Bapak sedang bersedih. Tapi Bapak senang kamu datang dari tempat yang jauh, dengarkan anakku,  universitas telah mati. Bertumpuk buku sudah tidak berguna. Berjuta batang pensil sudah tidak berarti. Dunia ramai dengan chaos! setelah bertahun-tahun aku mengabdi di dunia universitas,  episode ini adalah episode kematian bagi universitas! Kamu pasti haus. Ini air untukmu. Minumlah.

KOOR
Kamu tenggak minuman itu dalam kehausan yang amat sangat. Maka sekaratlah kamu! Mengigau mulutmu! Menggigau! Mendekatlah pada Profesor. 

PROFESOR
Mendekatlah nak. Ini air untukmu. Air kencing kata-kata! Buku-buku menangis. Tumpahlah airmata pengetahuan. Tumpahlah darah. Manusia-manusia meneteskan airmata.

LELAKI MUDA
Airmata matematika, airmata kimia, airmata fisika, airmata biologi, airmata ekonomi, airmata sejarah, airmata sosiologi, airmata religi, airmata estetika, airmata filsafat!

KOOR
Bel berbunyi. Kelas akan dimulai. Orang-orang, profesor-profesor dan dosen-dosen berada di tiang gantungan. Mayat orang-orang dan mahasiswa keluar dari kubur. Bertubuh debu. Tangannya berbuku lapuk. Mereka kini berbaris. Di dalam mata mereka ada cahaya dendam, penderitaan dan kesedihan. Ilmuwan muda tersadarkan.

LELAKI MUDA
Apa aku bermimpi? Mimpi yang sangat hitam. Lebih buruk dari mimpi masa kecilku ketika berlayar di kejar binatang laut raksasa. Siapa orang-orang yang mengerikan ini? Mengapa mereka menjerat leher mereka sendiri dengan tali tambang yang kasar itu?

PROFESOR
Mereka adalah orang-orang mati!

ILMUWAN MUDA
Siapa mereka? Mengapa mereka mati? Mengapa mereka bunuh diri?

PROFESOR
Universitas telah membujuk dan merayu agar mereka mati! Agar mereka bunuh diri! Penghuni universitas adalah para penari yang mengajak orang-orang menarikan kematian. Universitas  menarikan tarian kematian untuk dunia!

KOOR
Lagu dan musik bagi tarian kini terdengar. Musik yang indah! Tunangan Profesor kini bangkit dari peti matinya. Berbaju pengantin berwarna putih.

TUNANGAN dan KOOR (Bernyanyi)
Jangan bertanya siapa yang mati! Jangan bertanya siapa yang bunuh diri! Jangan bertanya mengapa mereka mati! Jangan bertanya mengapa mereka bunuh diri! Jangan bertanya siapa yang mematikannya! Siapa yang membuatnya bunuh diri!

PROFESOR
Pengantinku! Pengantinku! Oh kamu yang lebih indah dari pelangi, kamu datang lagi, kembali kini  aku melihatmu! Dimana kamu selama ini bersembunyi?

TUNANGAN (Bernyanyi)
Kegelapan! Kegelapan! Kegelapan yang telah menyembunyikan diriku! Profesor, menarilah bersamaku. Mari kita menari. Inilah hari pernikahan kita, kita adalah sepasang mempelai, kau telah memberikan jiwa padaku sebagai mas kawinnya.

PROFESOR
Saudara-saudaraku yang telah berada di tiang gantungan! Saudara-saudaraku yang telah berada di peti mati! Terimakasih atas kehadiran kalian dalam pernikahan kami ini! Lihatlah universitas-universitas itu di jejali mayat-mayat mahasiswa yang mati karena pikiran dan percobaan-percobaan mereka!  Kini mereka keluar dari liang kubur bersama debu! Menenteng buku-buku lapuk! Mereka menyeret kakinya di ruang-ruang kelas di universitas yang membangkai! Para penghuninya berjejalan mengubur diri mereka dengan ilmu pengetahuan yang mengarah pada kehancuran! Mereka berjalan-jalan keluar masuk ruang kuliah. Duduk dalam deretan bangku kuliah. Menatap profesor dan dosennya yang berbicara bagaimana caranya menggantung diri! Kepala mereka adalah lemari! Kepala mereka adalah data-data tentang pemusnahan manusia yang efektif! Kepala mereka adalah rak buku yang ketika bel tanda pulang berbunyi mereka mencopot rak itu, mereka mencopot kepalanya dengan gembira! Mereka berjalan pulang diantara orang-orang, di pasar, di kota, di desa, mereka berjalan sambil menenteng kepalanya. Orang-orang yang miskin, kelaparan, kebingungan melihat rombongan penghuni universitas tanpa kepala! Lalu sesampainya di rumah mereka meletakkannya di meja makan, dalam kulkas, di tong sampah, terlempar ke dalam comberan, terhanyut di pipa pembuangan, lalu keesokan harinya di universitas mereka mengenakan kepalanya kembali! Tapi kepala mereka saling tertukar! Aku bertanya! Dimanakah kepala mereka yang kemarin? Dimanakah kepala kamu yang kemarin? Kepala siapakah yang sedang kamu kenakan sekarang!

KOOR MAYAT-MAYAT (Bernyanyi)
Kepala-kepala saling tertukar. Tangan dan kaki saling tertukar. Pikiran dan perasaan saling tertukar. Kepastian dan percobaan saling tertukar. Kebenaran dan kejahatan saling tertukar. Derita dan kebahagiaan saling tertukar. Air dan api saling tertukar. Kawan dan lawan saling tertukar. Manusia dan binatang saling tertukar. Perang dan damai saling tertukar. Hidup dan mati saling tertukar.

GAGAK
Kaaak... kaaak... kaaak...

KOOR
Gagak itu bersuara! Ada yang datang! Profesor! Apakah kamu mengundang orang dalam pernikahanmu ini?
O ternyata bukan. Kami melihat dua orang anak kecil datang kemari! Mereka berjalan berpegangan tangan sambil menangis. Sedih sekali. Mereka tampak tidak terurus. Baju dan wajah mereka kotor. Mereka tampak lapar.
Tampaknya mereka datang kesini untuk meminta makanan.

2 ANAK KECIL
Bapak, bapak, kami minta makanan. Bapak, orangtua kami meninggal.

KOOR MAYAT HIDUP
Biarkan mereka mati Profesor! Atau kita bunuh mereka! Mereka mungkin adalah calon-calon penghuni universitas yang akan menghancurkan manusia-manusia!

PROFESOR
Jangan, mereka adalah korban perang. Mereka yatim piatu! Pengantinku, kita asuh anak-anak ini.

GAGAK
Kaaak... kaaak... kaaak...

KOOR
Universitas berpesta pora. Nyanyian terus bergema. Anak-anak kecil itu kini bernyanyi.

2 ANAK KECIL, PARA PENYANYI
Selamat malam pak guru kami. Mata yang terang. Kuping yang jernih. Dengan ini kami belajar dan mimpi akan kami genggam.

KOOR
Dua anak kecil dalam peliharaan Profesor dan tunangannya. Dan seekor gagak selalu bermain dengan mereka. Dua anak kecil itu tertarik dengan suara sang gagak yang keras dan parau. Lalu dua anak kecil itu menirukan dirinya sebagai gagak.

ANAK 1
Kaaaak....kaaaak...kaaaak...

ANAK 2
Kaaaak... kaaaak... kaaaak...

KOOR
Para mayat tertawa. Para mayat gembira. Suasana yang aneh tercipta. Profesor berjalan perlahan mendekati dua anak adopsinya itu. Matanya yang tinggal satu menatap tajam.

PROFESOR
Anak-anakku, ada yang aku lupa, aku belum tahu siapa nama kamu dan kamu?

ANAK 1
Namaku Alfred Nobel.

ANAK 2
Namaku Albert Einstein.


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar